Persebaya Keberatan Bonek Dilarang Hadir dalam Laga Vs PSS
TEMPO.CO | 11/07/2019 04:16
Suporter Persebaya, Bonek menyalakan suar dan kembang api saat pertandingan Piala Indonesia melawan Madura United di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Rabu, 19 Juni 2019. Tanda-tanda kemarahan Bonek sudah terlihat ketika Persebaya tertinggal lebih dulu
Suporter Persebaya, Bonek menyalakan suar dan kembang api saat pertandingan Piala Indonesia melawan Madura United di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Rabu, 19 Juni 2019. Tanda-tanda kemarahan Bonek sudah terlihat ketika Persebaya tertinggal lebih dulu oleh gol cepat pemain Madura United, Aleksandar Rakic pada menit ke-2. ANTARA/Moch Asim

TEMPO.CO, Yogyakarta - Keputusan tak adanya jatah kuota tiket bagi pendukung Persebaya Surabaya atau bonek dalam laga PSS vs Persebaya di Stadion Maguwoharjo pada Sabtu, 13 Juli 2019, membuat manajemen Persebaya keberatan.

Baca juga: PSS Vs Persebaya, Bonek Surabaya Kemungkinan Dilarang Hadir

Manajemen Persebaya pun akhirnya meminta klarifikasi langsung dari manajemen dan Panpel PSS Sleman pada Rabu 10 Juli 2019. "Kami keberatan Persebaya dilarang didukung suporternya sendiri. Menurut kami bonek (sebutan pendukung Persebaya) sudah mengalami banyak perubahan," ujar perwakilan manajemen Persebaya, Sidik Alex Tualeka di Stadion Maguwoharjo.

Alex menuturkan perubahan bonek itu bisa dilihat ketika dalam beberapa kali laga tandang bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi tuan rumah. Begitu pula sebaliknya, saat laga kandang, bonek bisa menjadi tuan rumah yang baik.

"Tapi dengan larangan (bonek hadir dalam laga PSS vs Persebaya) itu, mereka akan merasa sangat dirugikan," ujarnya.

Terlebih persiapan bonek untuk menyaksikan laga tim kesayangannya menantang PSS sudah cukup lama dipersiapkan.

Dalam pertemuan dengan pihak PSS itu, manajemen Persebaya menyatakan datang karena ingin menjalin silaturahmi sekaligus klarifikasi.

Suasana pertemuan juga berlangsung kondusif meski keputusan soal larangan Persebaya datang bersama pendukungnya masih tetap deadlock karena adanya rekomendasi kepolisian yang mengimbau panpel tak menyediakan tiket bagi pendukung Persebaya.

"Pihak manajemen dan panpel PSS masih tetap mempertimbangkan masukan dan aspirasi dari suporter," ujarnya.

Alex menambahkan pihaknya berharap Persebaya tetap bisa didukung bonek dalam laga melawan PSS nanti.

Pertimbangannya pertama, apapun aksi kejahatan yang terjadi adalah ulah oknum di tubuh suporter. Dia pun meminta itu tidak digeneralisir hingga mengorbankan kepentingan wadah suporter yang besar.

"Karena teman teman yang ada tribun itu datang tertib, taat aturan, aman, pulang damai, tanpa memberikan stigma buruk," ujarnya.

"Tapi jika ada oknum pendukung (yang merusuh) maka bisa ditindak sesuai hukum, tanpa harus mengorbankan teman suporter lain yang tak bersalah," ujarnya.

Alex berharap dalam laga PSS Sleman dan Persebaya Surabaya para suporter tetap dapat saling mengunjungi. Apalagi suporter kedua tim selama ini tak memiliki persoalan.

"Kami ingin menunjukkan bahwa sepakbola tak boleh kalah dengan orang orang yang ingin mengacaukan sepakbola itu," ujarnya.

Alex mengakui saat di Bantul medio 2018 silam memang terjadi ricuh antara Bonek dan Jakmania yang membuat laga Persija versus Persebaya batal digelar.

"Namun setelah di Bantul itu, suporter bisa tertib saat mendukung timnya lawan PSIS di Magelang, kami ke Bali juga dalam jumlah ribuan dan tidak terjadi apa apa, kemarin juga saat Piala Presiden hampir seminggu bonek tinggal di Bandung juga tidak terjadi apa apa," ujarnya.

Salah satu koordinator suporter Persebaya, Bojes
yang turut datang ke Maguwoharjo mengatakan, selama ini hubungan antara suporter dari Surabaya dan Sleman tak pernah ada masalah.

"Jadi keputusan (melarang bonek melihat laga PSS vs Persebaya) ini. sangat kami sayangkan. Banyak perubahan yang sudah dilakukan Bonek," ujarnya.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT