Ini Alasan Persipura Jayapura Terpuruk di Liga 1 2019
TEMPO.CO | 05/07/2019 15:21
Ini Alasan Persipura Jayapura Terpuruk di Liga 1 2019
Persipura Jayapura. (liga-indonesia.id)

TEMPO.CO, Jakarta - Nama besar Persipura Jayapura di kompetisi Liga Indonesia terus terkikis. Dalam beberapa tahun terakhir prestasi tim langganan juara itu terus merosot, khususnya sejak era Liga 1 yang dimulai 2017.

Sebelumnya Persipura mampu menjuarai kompetisi kasta tertinggi sebanyak empat kali, yakni pada 2005, 2008/09, 2010/11 dan 2013. Mereka menjadikan pengoleksi gelar terbanyak sejak era Liga Indonesia.

Namun kini, kejayaan mereka hanya tinggal cerita. Persipura kesulitan bersaing meraih gelar juara, atau hanya sekadar meraih kemenangan. Musim ini pun tak berbeda.

Dari enam laga awal yang sudah dilakoni di Liga 1 2019, Persipura belum sekali pun bisa membawa pulang tiga poin. Kini, mereka terpuruk di zona degradasi menempati posisi ke-16 dengan koleksi tiga poin, hasil dari tiga kali imbang dan tiga kali kalah. Dalam laga terakhirnya, Persipura dibantai Arema FC dengan skor 3-1 di Stadion Gajayana, Kota Malang, 4 Juli 2019.

Rentetan hasil negatif itu membuat manajemen langsung menggelar evaluasi tim, dan menumbalkan pelatih Luciano Leandro sebagai korban beberapa saat sebelum menghadapi Arema FC. Ia pecat karena dianggap gagal memperbaiki performa tim.

"Kami sudah bertemu dan berbicara. Coach Luciano juga sangat mengerti dan memahami keadaan yang kami alamibahwa hasil pertandingan belum memuaskan. Walau ada sedikit perbaikan dan perkembangan," ujar Ketua Umum Persipura, Benhur Tomi Mano.

Benhur melanjutkan, "Untuk hal tersebut, saat ini kita akan mencari dan menyiapkan pelatih baru, yang nantinya akan menggantikan pelatih Luciano Leandro."

Lantas bagaimana bisa tim sekelas Persipura yang selalu melahirkan pemain hebat bisa terpuruk seperti saat ini? Berikut dua penyebabnya:

1. Anggaran Terbatas

Sebelum kompetisi Liga 1 2019 dimulai, Persipura harus mengalami kenyataan pahit yakni anggaran finansial yang terbatas, karena mereka hanya didukung oleh dua sponsor utama yakni Bank Papua dan PT Freeport Indonesia. 

Masing-masing menggelontorkan dana sebesar Rp 10 miliar (Bank Papua) dan Rp 7,5 miliar (PT Freeport Indonesia), atau ditotal sebesar Rp 17,5 miliar untuk anggaran satu musim kompetisi.

Anggaran terbatas ini membuat Persipura tidak bisa berbuat banyak. Bahkan, mereka juga tidak bisa untuk menggelar launching jersey dan tim.

"Jelang Kompetisi Liga 1 2019 tidak akan memperkenalkan atau melakukan launching jersey dan skuat Persipura Jayapura. Kondisi finansial tim saat ini tengah labil, sehingga hal itu tidak mungkin dilakukan," kata asisten manajer Persipura, Bento Madubun.

2. Kualitas Pemain

Efek lain dari terbatasnya anggaran Persipura untuk kompetisi Liga 1 2019 ini, yaitu mereka tia bisa berbuat banyak dalam bursa transfer lalu, khususnya mendatangkan pemain bintang untuk menambah kualitas tim.

Alhasil, Persipura kini lebih banyak mengandalkan pemain muda berbakat mereka, seperti Todd Rivaldo Ferre, Marinus Wanewar, Gunansar Mandowen, dan Inyoman Ansanay.

Hal itu juga sekaligus sebagai tanda regenerasi pemain yang dilakukan oleh Persipura, meskipun bisa dibilang terlambat. Sebab, sejumlah tim Liga 1 lain sudah banyak mengandalkan pemain muda, dari beberapa musim terakhir.

Bahkan, ada tanggapan yang menyebut materi pemain Persipura saat ini jauh dari kata ideal, seperti semasa kepemimpinan pelatih Jacksen F Tiago, yang berjaya dengan tiga gelar liga, sehingga tidak sepatutnya dibebankan juara.

"Memperhatikan semua aspek tersebut, sudah semestinya manajemen Persipura lebih bijak dalam menentukan target berdasarkan kondisi riil pemain dalam tim," kata pendiri SSB Emsyk FC di Papua, Petrus Benny Pepuho, dalam akun Facebook-nya.

INDOSPORT


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT