Kasus Mafia Bola: Giliran Voters Minta Exco PSSI Diperiksa
TEMPO.CO | 11/05/2019 01:30
Pelaksana Tugas Ketua Umum PSSI, Joko Driyono (kiri) didampingi Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria tiba di gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum, Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis, 24 Januari 2019. Kasus pengaturan skor ini terjadi pada pertandingan Liga II
Pelaksana Tugas Ketua Umum PSSI, Joko Driyono (kiri) didampingi Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria tiba di gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum, Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis, 24 Januari 2019. Kasus pengaturan skor ini terjadi pada pertandingan Liga II dan Liga III pada musim kompetisi 2018. TEMPO/Subekti.

TEMPO.CO, Jakarta - Bila sebelumnya suporter mendesak Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Bola Polri segera memeriksa jajaran Komite Eksekutif Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), termasuk Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PSSI Iwan Budianto, dan Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha Destria, kini giliran voters yang meminta.

“Kalau Satgas memang mau bersih-bersih PSSI, sudah menjadi konsekuensi logis untuk memeriksa semua jajaran Exco (Executive Committee atau Komite Eksekutif) yang diduga terlibat match fixing. Satgas tidak boleh pandang bulu, sesuai azas kesetaraan di muka hukum,” ujar Presiden Persijap Jepara, Esti Puji Lestari, salah satu voter atau pemilik hak suara PSSI, di Jakarta, Jumat (10/5/2019).

IB, panggilan akrab Iwan Budianto, adalah salah satu anggota Komite Eksekutif PSSI. Menurut Satgas Antimafia Bola, sebanyak 13 dari 15 anggota Komite Eksekutif PSSI diduga terlibat match fixing atau pengaturan skor pertandingan. Adapun Ratu Tisha telah beberapa kali diperiksa Satgas sebagai saksi match fixing. 

Esti berpendapat, setelah memeriksa seluruh jajaran Komite Eksekutif PSSI, Satgas harus melakukan gelar perkara untuk menentukan apakah mereka kemudian menjadi tersangka atau tidak.

Sebelumnya, hal senada disampaikanKetua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia Ignatius Indro. Voterlainnya, Persipura Jayapura, pun setali tiga uang.

Asisten Manajer Persipura, Bento Madubun, mendukung langkah Satgas Antimafia Bola untuk bersih-bersih PSSI. Ketika Satgas sudah bertindak, kini giliran PSSI yang harus bergerak, yakni dengan mempercepat Kongres Luar Biasa (KLB) untuk memilih Ketua Umum PSSI yang baru.

"Kami ingin sepak bola kami bersih. Hal paling utama adalah apa yang sudah dilakukan Satgas harus ditindaklanjuti. Caranya bagaimana? Apa yang menurut Satgas tidak beres di dalam, mari kita bersihkan," ujarnya.

Bento menilai, ada yang sedang berusaha melanggengkan kekuasaan di PSSI, dan itu bisa menyinggung Satgas Antimafia Bola. ”Jangan karena kekuasaan lalu PSSI korbankan yang lain. Jangan sampai aparat tersinggung," pintanya.

Kasus dugaan suap yang menyeret IB ini bermula dari laporan mantan Manajer Tim Perseba Bangkalan, Imron Abdul Fattah, pada delapan besar Piala Soeratin 2009, awal Januari lalu. Saat itu Imron mengucurkan dana Rp 140 juta sebagai setoran untuk menjadi tuan rumah fase delapan besar. Satgas menemukan adanya aliran dana kepada IB dan jajarannya ketika masih menjabat Ketua Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) 2009.

Satgas menyatakan IB bisa menjadi tersangka kasus ini. Namun polisi masih melakukan proses pemeriksaan lebih lanjut. Kasus ini sudah naik dari tahap penyelidikan ke penyidikan. Dalam waktu dekat IB akan dipanggil kepolisian. IB pun siap kooperatif.

Selain IB, kasus ini juga menyeret manajer Madura United, Haruna Soemitro, yang waktu itu menjabat Ketua Pengda PSSI Jawa Timur. Setoran uang dari Imron diduga prosesnya melewati Haruna.

Sedangkan Ratu Tisha telah beberapa kali diperiksa Satgas, terakhir Jumat (29/3/2019). Menurut Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, pemeriksaan kepada Tisha sama seperti sebelumnya, hanya sebagai saksi untuk empat tersangkamatch fixing. Tapi tidak tertutup kemungkinan jika nanti Tisha ataupun petinggi PSSI lainnya ditetapkan sebagai tersangka.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT