Jadwal KLB PSSI, Sesmenpora: Jangan Berlindung di Balik Pemilu
TEMPO.CO | 24/02/2019 16:05
Sesmenpora Gatot S. Dewa Broto (dua dari kiri) bersama tim kuasa hukum Roy Suryo dalam mediasi masalah surat permintaan pengembalian barang milik negara. TEMPO/Ryan Dwiky Anggriawan
Sesmenpora Gatot S. Dewa Broto (dua dari kiri) bersama tim kuasa hukum Roy Suryo dalam mediasi masalah surat permintaan pengembalian barang milik negara. TEMPO/Ryan Dwiky Anggriawan

TEMPO.CO, Jakarta - Setelah mundurnya Edy Rahmayadi dari posisi ketua umum PSSI dan dicokoknya sejumlah tersangka oleh Satgas Antimafia Bola, sepak bola Indonesia sekarang, menjelang KLB PSSI, berada di persimpangan, demikian kata sejumlah pengamat.

Budayawan Arswendo Atmowiloto dalam sebuah diskusi tentang sepak bola, yang diadakan Sepak Bola Indonesia Juara, di Jakarta, Minggu, 24 Februari 2019, mengatakan saat ini adalah momentum yang baik bagi sepak bola Indonesia untuk berbenah.

"Polisi sudah bergerak, titik. KLB ada. Siapa saja kalau dia (ketua umum PSSI) benar, kita dukung. Selesai. Ini perbaikannya dan momentumnya baik," kata Arswendo.

Berada di persimpangan, artinya sepak bola Indonesia bisa dibawa maju, mundur, belok ke kanan, maupun ke kiri. Sekarang ini mau ke mana? Tidak ada yang menyangka Edy Rahmayadi bisa mundur dari kursi nomor satu federasi sepak bola nasional itu ketika dia menghadiri Kongres PSSI 2019 di Bali pada Januari lalu.

Satgas Antimafia Bola, yang dibentuk akhir tahun lalu, juga telah menggeledah dua markas PSSI di Kemang dan FX Sudirman serta menetapkan sejumlah tersangka, termasuk Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono yang diduga melakukan perusakan dokumen pengaturan skor.

"Ini yang menang adalah situasinya. Kita tidak bisa bayangkan pak Edy bisa lengser," kata Arswendo.

Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga Gatot S. Dewabroto mengungkapkan bahwa pemerintah tidak bisa melakukan intervensi terhadap PSSI.

Namun, dia menggambarkan bahwa situasi sekarang berbeda. Jika dulu federasi sepak bola Internasional FIFA ketika masih di bawah Sepp Blatter selalu dekat dan melindungi PSSI.

"Era FIFA sekarang berbeda," kata Gatot tentang kepemimpinan Gianni Infantino, presiden baru FIFA. "Sekarang itu beda, mereka sangat kritis." FIFA pun sekarang sangat responsif ketika pemerintah berusaha untuk berkomunikasi dan konsultasi terkait PSSI, kata Gatot.

"Ada fenomena bahwa komunikasi ini bisa dibangun dan tidak didominasi oleh PSSI." PSSI telah memutuskan untuk menggelar Kongres Luar Biasa (KLB). Adapun KLB ini menyangkut internal PSSI yang memiliki statuta, yang tak boleh diintervensi oleh pemerintah maupun polisi.

Meski belum memutuskan waktu pelaksanaan KLB, PSSI telah memiliki dua agenda penting menjelang KLB, yaitu membentuk perangkat Komite Pemilihan (KP) dan Komite Banding Pemilihan (KBP) serta agenda kedua adalah penetapan tanggal kongres pemilihan kepengurusan baru.

PSSI pun bakal mengirim perwakilan ke Zurich untuk berkoordinasi secara langsung dengan FIFA guna mendapatkan arahan dan rekomendasi yang tepat.

Ada selentingan yang menyebutkan bahwa KLB sebaiknya dilaksanakan usai Pemilu April nanti. Gatot membantah. "KLB itu tidak ada hubungannya dengan Pileg dan Pilpres. Jangan berlindung di balik itu," kata Gatot.

Pemerhati isu bola Andi Sururi menggarisbawahi bahwa ini bukan pertama kalinya sepak bola Tanah Air berada di persimpangan jalan.

"Suporter sudah pernah turun ke jalan, negara pernah membekukan PSSI. Sekarang kita butuh momen apalagi? Kita ingin sepak bola ini baik," kata Andi.

Andi memandang ketua umum baru saja tidak cukup, jika tidak dibarengi dengan pergantian pengurus di daerah dan sistem."Kalau orang-orangnya itu saja, saya tidak percaya. Buat saya waktu mereka sudah habis, "kata Andi.

Ketua umum PSSI yang ideal menurut Andi adalah orang yang, selain jujur dan tegas, harus punya kemampuan manajerial yang bagus karena sepak bola itu memiliki pasar yang luas.

Sedangkan Gatot berharap ketua umum PSSI yang baru nanti adalah orang yang memiliki komitmen untuk memajukan sepak bola Indonesia. Selain itu, harus memiliki rekam jejak yang bagus, tidak memiliki masa lalu yang bisa menyandera kepemimpinannya nanti, serta harus tegas dan bisa mengambil keputusan.

"Dalam kondisi apa pun bisa mengambil keputusan, harus bisa menjadi nahkoda saat badai. Pak Edy memang tegas, tapi tidak ada decision making, sehingga terombang-ambing," kata Gatot, sekretaris Kemenpora.

 

 

 

 

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT