Manchester City Vs Wolves: Saksikan Penerus Crazy Gang Wimbledon
TEMPO.CO | 14/01/2019 13:35
Para pemain Wolverhampton Wanderers, melakukan selebrasi setelah rekannya Willy Boly, mencetak gol ke gawang Manchester City alam pertandingan Liga Inggris di Stadion Molineux, Wolverhampton, 25 Agustus 2018. AP
Para pemain Wolverhampton Wanderers, melakukan selebrasi setelah rekannya Willy Boly, mencetak gol ke gawang Manchester City alam pertandingan Liga Inggris di Stadion Molineux, Wolverhampton, 25 Agustus 2018. AP

TEMPO.CO, Jakarta - Wolverhampton Wanderers atau Wolves menggilas Liverpool 2-1 pada babak ketiga Piala Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) sebelum bertamu ke kandang Manchester City, Etihad, dinihari nanti, Selasa 15 Januari 2018, pada pekan ke-22 Liga Inggris.

Pada Agustus 2018, Wolves bermain 1-1 melawan Manchester City di Molineux dalam liga. Bulan lalu, Wolves menghajar Chelsea 2-1.

Meski Wolves sekarang baru menempati peringkat ke-11 dari 20 tim liga, tapi pasukan asuhan Nuno Espirito Santo ini kerap menyulitkan tim-tim papan atas, termasuk juara bertahan Manchester City yang saat ini tercecer tujuh poin di belakang Liverpool di puncak klasemen.

Jadi jangan samakan Wolves dengan Burton yang digilas Manchester City sampai 9-0 pada pertemuan pertama semifinal Piala Liga Inggris, Kamis, 10 Januari 2019 atau Rotherham yang dilumat City 7-0 pada babak ketiga Piala Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), Minggu, 6 Januari lalu.

Meski Wolves masih naik-turun, tapi mereka memang pantas digelari pembunuh raksasa. Contoh lain dari “keberandalan” mereka adalah ketika mempermalukan Tottenham Hotspur 3-1 di kandang Spurs dalam liga, 29 Desember 2018.

“Kami merasakan pada pertandingan pertemuan pertama, bagaimana sulitnya melawan mereka,” kata Manajer Manchester City, Pep Guardiola, tentang Wolves.

“Mereka sangat kuat secara fisik, mampu berlari cepat saat melakukan serangan balik. Pertahanan mereka juga bagus dan dalam. Mereka mengontrol di semua arena,” Guardiola melanjutkan tentang Wolves ini.

Sepak bola Inggris butuh Wolves sebagaimana anak-anak “The Crazy Gang” Wimbledon pada periode 1988. Saat itu mereka mampu mengalahkan Liverpool pada babak final Piala FA.

Mengingat gambaran dari Guardiola di atas soal ciri khas Wolves, pada 30 tahun lalu Vinnie Jones dan kawan-kawan juga mengandalkan fisiknya untuk bermain keras membendung tim-tim atas. Pada salah satu pertandingan, Jones bahkan pernah diskorsing setelah meremas salah satu bagian tubuhnya lawannya sampai musuh berteriak kesakitan.

Sepak bola Inggris memerlukan kehadiran anak-anak “kurang ajar” untuk menghidupkan dinamika kompetisi dari segi tontonan dan rasa penasaran.

Meski Wolves sekarang tidak brutal seperti Vinnies Jones cs dari “The Crazy Gang” Wimbledon 1980-an, tapi penampilan Ruben Neves –gelandang bertahan muda usia asal Portugal- dan kawan-kawan pada sukses Wimbledon tempo dulu atau saat Blackburn Rovers pada era pelatih Mark Hughes sampai membuat Arsene Wenger sebagai manajer Arsenal protes keras karena permainan fisik mereka.

Manajer Wolves sekarang, Nuno Espirito Santo, mantan kiper dari Portugal yang masih berusia 44 tahun membawa pengaruh besar pada penampilan tim ini.

Ciri khas defensif Portugal yang istimewa seperti pada sukses tim nasionalnya saat memenangi Euro 2016 dan pada sosok Jose Mourinho dalam membangun suksesnya seperti mengalir ke tubuh Wolves melalui Nuno Espirito Santos dan Ruben Neves, gelandang bertenada kuda yang membawa Wolves memenangi Liga Championship musim lalu.

Santo menilai hasil imbang Wolves dengan Manchester City pada pertemuan pertama adalah momentum. “Itu sangat penting untuk menunjukkan bahwa kami siap bersaing dengan standar tinggi di Liga Primer Inggris.”

INDEPENDENT | AP | TELEGRAPH


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT