Dua Anak Wiji Thukul Berkolaborasi Bawakan Puisi, Bikin Merinding
TEMPO.CO | 05/09/2018 16:55
Putra penyair Wiji Thukul, Fajar Merah (kanan) bersama adiknya Fitri Nganthi Wani membacakan puisi ketika menghadiri pembacaan puisi karya Wiji Tukul di Taman ismail Marzuki, Jakarta, 24 Januari 2017. Pembacaan puisi usai menonton film Istirahatlah Kata-K
Putra penyair Wiji Thukul, Fajar Merah (kanan) bersama adiknya Fitri Nganthi Wani membacakan puisi ketika menghadiri pembacaan puisi karya Wiji Tukul di Taman ismail Marzuki, Jakarta, 24 Januari 2017. Pembacaan puisi usai menonton film Istirahatlah Kata-Kata yang berkisah tentang Wiji Thukul itu untuk mengenang penyair dan aktivis yang memperjuangkan demokrasi pada masa orde baru. ANTARA/Wahyu Putro A

TEMPO.CO, Solo -"Darimu jenderal penindas / hamba meracik senjata / Dari bubuk mesiu kebenaran / membentuk peluru-peluru kata." Bait pertama puisi berjudul Dalam Keabadian Kebenaran Membatu dibacakan putri Wiji Thukul, Fitri Nganthi Wani dengan suara lantang. Suasana yang semula riuh di Studio Kopi nDaleme Eyang pada Senin malam itu, 3 September 2018, seketika teredam.

Diiringi petikan dua gitar akustik dan lirih tabuhan cajon di sela interlude lagu Derita Sudah Naik Seleher yang dimainkan Merah Bercerita, Fitri tampak begitu berapi-api. Puisi pendek yang mengisahkan panjangnya perjuangan sang ayah, Wiji Thukul, dalam melawan tirani itu dia baca dengan intonasi cepat dan bernada tinggi. Meski hanya membawakan satu puisi lawasnya, penampilan singkat Fitri mampu mengaduk emosi para pengunjung.

"Merinding saya," kata Nurul Aisyah, salah satu pengunjung dari Kabupaten Klaten yang rela menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer demi menghadiri acara bertajuk Apresiasi Kumpulan Puisi Kau Berhasil Menjadi Peluru di kafe yang tak jauh dari kediaman keluarga Presiden Joko Widodo di wilayah Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, itu.Fajar Merah (tengah) saat tampil di Kamis Manja #9, acara bulanan komunitas pegiat musik indie di kafe Lokal Jajan, Kabupaten Klaten, pada Kamis malam, 30 Agustus 2018. DINDA LEO LISTY / KLATEN.

Selain Merah Bercerita, acara Apresiasi Kumpulan Puisi Kau Berhasil Menjadi Peluru itu juga dimeriahkan oleh sejumlah komunitas pegiat sastra di Solo, seperti Blues Kata, Yuditeha (Kamar Kata), Soesilo Adinegoro (Sang Akar Institute), Panji Sukma (Semesta Bersua), Rudyaso Febriadhi (Warkop Cemara Sewu), dan lain-lain.

Kau Berhasil Menjadi Peluru adalah buku kumpulan puisi kedua karya Fitri Nganthi Wani, putri sulung Wiji Thukul, penyair dan aktivis yang hilang sejak akhir 1998. Buku kumpulan puisi yang baru diluncurkan di Yogyakarta pada 8 Juni lalu itu seakan menjawab kumpulan puisi bapaknya yang berjudul Aku Ingin Jadi Peluru yang terbit pada 2000.

Malam itu Fitri sengaja tidak membacakan salah satu dari 51 puisi yang terangkum dalam buku barunya. “Puisi Kau Berhasil Menjadi Peluru kan sudah dibuat lagu oleh Merah Bercerita, tadi dinyanyikan juga,” kata Fitri saat ditemui Tempo di lokasi acara. Merah Bercerita adalah band yang digawangi empat personel, salah satunya Fajar Merah, adik Fitri sekaligus putra bungsu Wiji Thukul.Fitri Nganthi Wani, putri Wiji Thukul, meluncurkan buku puisi Kau Berhasil Jadi Peluru berisikan 52 puisi yang ia tulis sejak 2010-2018, pada Jumat, 8 Juni 2018. (ISTIMEWA)

Menurut Fajar Merah, puisi Dalam Keabadian Kebenaran Membatu karya Fitri justru menyimpan sejarah yang cukup berkesan di sepanjang perjalanannya bermusik. Fajar mengatakan, puisi itu ditulis kakaknya saat Merah Bercerita akan pentas di Jombang, Jawa Timur, pada 2014.

“Saat itu saya dan teman-teman Merah Bercerita sudah bingung mau mengulik apa lagi. Akhirnya saya tawari Mbak Fitri untuk bikin puisi buat dikolaborasikan dengan lagu Derita Sudah Naik Seleher yang diadopsi dari puisi Wiji Thukul. Jadi (kolaborasi) ini terjadi karena sesuatu yang spontan,” kata Fajar.

Baca: Album Kedua Merah Bercerita Tanpa Puisi Wiji Thukul

Setelah empat tahun berselang, kolaborasi bersejarah antar adik dan kakak dari pasangan Wiji Thukul dan Dyah Sajirah alias Sipon pun akhirnya terulang. “Sebenarnya saya suka nyanyi juga. Tapi adik saya nggak boleh. Dia bilang, sudah kamu di puisi saja. Mungkin dia khawatir kalau tersaingi,” kata Fitri sambil tertawa.

 

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT