PKN 2020, Presiden Joko Widodo: Buktikan Pekerja Seni Tak Tunduk Pandemi
TEMPO.CO | 01/11/2020 19:33
Presiden Joko Widodo membuka Pekan Kebudayaan Nasional atau PKN 2020 secara virtual pada Sabtu, 31 Oktober 2020. Foto: Tangkapan Gambar Youtube PKN 2020
Presiden Joko Widodo membuka Pekan Kebudayaan Nasional atau PKN 2020 secara virtual pada Sabtu, 31 Oktober 2020. Foto: Tangkapan Gambar Youtube PKN 2020

TEMPO.CO, Jakarta - Beberapa seniman kondang Indonesia tampil membuka Pekan Kebudayaan Nasional atau PKN 2020 yang berlangsung secara daring pada Sabtu, 31 Oktober 2020. Ada musikus Ananda Sukarlan, penyanyi remaja Naura, koreografer Rianto dan Eko Supriyanto menyuguhkan kemampuan memainkan musik, nyanyian, tari, dan koreografinya.

Ribuan seniman akan memeriahkan Pekan Kebudayaan Nasional atau PKN 2020 yang digelar mulai 31 Oktober - 30 November 2020. Para seniman tampil bersama seniman lain dari seluruh penjuru Tanah Air yang menampilkan tradisi nusantara yang bertajuk Napas Bumi.

Rangkaian acara Pekan Kebudayaan Nasional 2020 dibuka oleh Presiden Joko Widodo. Dalam sambutannya, Presiden Joko Widodo mengatakan pandemi bukan penghalang bagi insan seni dan budaya untuk tetap berkreasi. Menurut dia, justru saat seperti ini semua pihak tidak boleh menyerah dengan keadaan dan kesulitan dengan tetap berkreasi dan bergerak membangun memori masa depan yang lebih baik.

"Acara ini menjadi bukti bahwa para budayawan dan para pekerja seni Tanah Air tidak mau tunduk oleh pandemi Covid-19, tidak mau menyerah oleh kesulitan dan tantangan yang dihadapi," kata Presiden Joko Widodo saat membuka acara yang disiarkan melalui saluran YouTube dan siaran langsung TVRI pada Sabtu malam, 31 Oktober 2020. Presiden mengatakan, tanpa mempedulikan suku, agama, asalnya, semua harus berupaya meletakkan satu bata, yakni bata budaya untuk membangun peradaban Indonesia maju.

Pekan Kebudayaan Nasional atau PKN 2020 berlangsung secara virtual mulai 31 Oktober - 30 November 2020. Foto: Tangkapan Gambar Youtube PKN 2020

PKN 2020 ini akan berlangsung selama sebulan. Festival ini melibatkan 4.791 seniman dan pekerja seni, menghadirkan 27 tema konferensi, 93 pergelaran, dan memamerkan 1.477 karya seni visual. Seluruh rangkaian acara diadakan lewat daring. Penonton dapat menyaksikan melalui saluran TVRI dan Youtube @Budayasaya dan mengakses laman www.PKN.id.

Musikus Ananda Sukarlan menampilkan kemampuan berpiano, penyanyi remaja Naura dengan nyanyian tentang Indonesia. Disusul adat Ritual Nyanghatn dari Kalimantan Barat. Setelah itu tampil pertunjukan Dana Sarah dengan latar belakang candi Muaro Jambi yang megah. Penampilan dari Jambi disusul dengan Tari dan Musik Hu dari Aceh.

Ada pula video adat Upacara Syukuran dan Kedukaan dari Tana Toraja. Sebuah upacara unik yang dilaksanakan oleh masyarakt Toraja dengan penyembelihan kerbau. Dari Toraja, penonton diajak terbang ke Sumatera Utara melihat Tari Ritual Patung Kayu Sigale-gale.

Penampilan Rianto Manali dan tim kreasi menggelar sebuah koreografi kontemporer berjudul Mantra Tubuh dengan tata cahaya dan panggung di air di Danau Baturaden. Rianto dan satu penari lain memperlihatkan koreografi yang memfokuskan pada unsur ketubuhan. Air menjadi medium bagi mereka berkreasi. Jika sejak awal penonton melihat unsur tradisi, tari tradisional, pada sesi Rianto, penonton diajak melihat sebuah karya kontemporer yang berakar dari Tradisi Banyumasan.

Setelah Rianto, penonton diajak melihat lagi tarian tradisi Riau Joged Lambak dan Pucuk Pisang. Menjelang penutupan, koreografer Eko Supriyanto menyajikan koreografi Mighty Indonesia. Dengan latar belakang Candi Borobudur yang sangat megah, ditunjang dengan tata lampu yang bagus.

Koreografi yang menghadirkan puluhan penari dari Eko Dance Company yang semuanya mengenakan masker. Penampilan yang mengingatkan pada pembukaan Asian Games 2018. Eko adalah koreografer yang mengantar ribuan penari saat upacara pembukaan dan penutupan Asian Games dua tahun lalu. Penyanyi remaja Naura tampil sekali lagi dalam acara penutupan tersebut.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT