The Gift, Film Teranyar Hanung Soal Manusia Memaknai Ulang Cinta
TEMPO.CO | 03/12/2017 19:27
The Gift, Film Teranyar Hanung Soal Manusia Memaknai Ulang Cinta
Sutradara Hanung Bramantyo saat dilokasi syuting pembuatan film yang berjudul Hijab dikawasan wisata Kotatua, 13 Oktober 2014. TEMPO/Nurdiansah

TEMPO.CO, Yogyakarta -Titiana (diperankan Ayushita), novelis sekaligus perupa sketsa datang ke Yogyakarta untuk mencari inspirasi. Tak hanya inspirasi, di Yogya, ia bertemu Harun (diperankan Reza Rahardian) pemuda anak kolong yang frustasi karena menjadi tunanetra akibat kecelakaan usai kebut-kebutan.

Baca juga: Di Film The Gift, reza rahadian jadi Pria Buta

Titiana tinggal di rumah Harun untuk indekos. Alur awal dari film baru garapan sutradara Hanung Bramantyo berjudul “The Gift” itu bisa ditebak. Keduanya jatuh cinta.

Titiana merasa ada beberapa persamaan yang membuatnya dekat dengan Harun yang emosional itu. Keduanya hidup dalam keluarga yang tidak harmonis. Ayah Titiana temperamen, ibunya yang menjadi korban KDRT memilih gantung diri. Sedangkan ayah Harun mendidiknya dengan keras.

Baik Titiana maupun Harun, keduanya diasuh oleh perempuan yang bukaan ibunya. Titiana oleh Bu Suud (diperankan Christine Hakim) yang mengelola panti asuhan dan Harun oleh simbok yang mengasuhnya sejak kecil. Keduanya juga perupa. Titiana suka menggambar sketsa dengan pensil. Dia selalu membawa buku sketsanya ke mana pun pergi.

Sedangkan Harun saat masih bisa melihat juga pelukis dan pematung. Sementara meskipun penglihatan Titiana awas, dia lebih suka hidup dalam kegelapan. Mengurung diri di dalam lemari, memejamkan mata saat mengetik tulisan novelnya yang semua itu semata demi bisa hidup dalam dunia imajinasinya. Termasuk menciptakan tokoh rekaan bernama Bona yang menjadi sahabatnya sedari kecil.

Persoalan muncul ketika Arie (diperankan Dion Wiyoko), teman kecil Titiana melamarnya tepat ulang tahunnya yang ke-30. Keduanya tinggal di Paris di tempat Arie bekerja sebagai dokter spesialis mata. Meninggalkan Harun yang marah karena merasa ditipu.

Harun melakukan operasi mata. Tanpa ia ketahui, Titiana lah yang mendonorkan kornea matanya. Harun baru mengetahui saat mampu melihat kembali dan bisa memandang wajah Titiana yang tak lagi bisa melihat.

Bagi Reza Rahadian mengaku peran sebagai seorang penyandang tuna netra baru pertama kali dilakoninya. Terlebih lagi memerankan sosok yang sebelumnya bisa melihat dengan awas, kemudian buta, dan bisa melihat kembali cukup menguras emosi. “Menjadi orang yang superior kemudian inferior, gagal dan sangat rapuh. Itu tidak mengenakkan,” kata Reza saat ditemui Tempo di CGV Cinemas J-Walk Yogyakarta, Sabtu, 2 Desember 2017 malam.

Film The Gift masih menunggu waktu cukup lama untuk diputar di bioskop Indonesia. Film berdurasi 116 menit itu menghabiskan waktu pengambilan gambar 20 hari di Yogyakarta dan Paris saat Ramadan lalu.

Hanung Bramantyo menggarap film ini sebagai upaya dirinya melepas kejemuan. Dia tak ingin terjebak menggarap film yang ide ceritanya berasal dari novel laris atau pun kelak disebut sebagai film yang laris. Film-film laris yang diistilahkannya dengan Hollywood style atau pun Bollywood style itu dinilainya membuat penonton inferior. “Sudah lelah dengan film yang besar, superior. Enggak mau bikin film yang ada kata-kata larisnya,” kata Hanung saat ditemui Tempo usai pemutaran perdana film The Gift dalam ajang Festival Film Asia Jogja-NETPAC (JAFF) 2017.


BERITA TERKAIT