Buku Kembar Buncing Karya Oka Rusmini, Perpaduan Cerpen dan Esai
TEMPO.CO | 22/07/2019 21:33
Acara diskusi sekaligus peluncuran buku Kembar Buncing di Bentara Budaya Bali, Minggu, 14 Juli 2019. Buku Kembar Buncing merupakan karya terbaru penulis Oka Rumini. TEMPO | Made Argawa
Acara diskusi sekaligus peluncuran buku Kembar Buncing di Bentara Budaya Bali, Minggu, 14 Juli 2019. Buku Kembar Buncing merupakan karya terbaru penulis Oka Rumini. TEMPO | Made Argawa

TEMPO.CO, Gianyar - Wartawan Oka Rusmini merilis buku terbarunya berjudul Kembang Buncing: Men Coblong dan Koplak. Dua buku ini menampilkan dua tokoh rekaannya, yakni Men Cobong dan Koplak.

"Menulis menjadi pelarian saat saya jenuh melakukan reportase," kata Oka Rusmini yang terbiasa menulis esai atau cerpen sejak duduk di usia sekolah menengah pada Minggu, 14 Juli 2019 di Ketewel, Kabupaten Gianyar, Bali.

Buku Men Coblong adalah perpaduan antara kemampuan bertutur seperti cerpen dan argumentatif cerdas esai. Tokoh Men Coblong adalah seorang wanita paruh baya dengan seorang anak lelaki. Kritis dengan kehidupan di sekitarnya terutama soal agama, budaya dan politik.

"Ini bukan buku kumpulan cerpen, bukan esai, atau kolom. Ini perpaduan ketiganya yang menawarkan sesuatu yang baru, nyeleneh, dan inovatif," kata Oka Rusmini tentang buku Men Coblong yang tebalnya 220 halaman.

Adapun buku Koplak yang terdiri dari 182 halaman bercerita tentang I Putu Koplak. Duda yang menjabat kepala desa ini memiliki seorang anak gadis berusia 21 tahun yang bekerja sebagai pengusaha.

Tidak seperti kebanyakan penguasa lainnya yang cenderung sibuk dengan penampilan, Koplak hadir sebagai tokoh santun, jauh dari angkuh, serta hangat dan guyub sebagaimana umumnya masyarakat tinggal di dusun.

"Koplak mencerminkan kerinduan kepada pemimpin yang rendah hati, penuh cinta, dan pengabdi. Siap melayani, bukan dilayani," kata penulis kelahiran Jakarta, 11 Juli, 52 tahun silam, itu. 

Oka Rusmini mulai menerbitkan buku pada 1997. Dia meraih penghargaan South East Asian (SEA) Write Award dari pemerintah Thailand pada 2012.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT