• Penyair Isbedy Stiawan ZS dan Muhammad Alfarizie lolos kurasi Festival Sastra Internasional Gunung Bintan di Kepulauan Riau, November 2018 mendatang. MewakiliLampung.
  • Zainal Asikin |Teraslampung.com

    BANDARLAMPUNG-Prihatin atas musibah bencana alam gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah, pada Jumat 28 September 2018 lalu, membuat seorang musisi perdamaian dunia, Kim Commanders bersama Komunitas seniman jalanan lampung (Kosela) yang dipunggawainya merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu.

    Musisi yang karya lagu baladanya diakui oleh dunia, “Children With No Land” itu bersama Komunitas seniman jalanan lampung (Kosela), akan tampil dalam konser amal penggalangan dana untuk korban bencana alam di Sulawesi Tengah yang diinisiasinya bersama Ketua Yayasan Alfian Husin Universitas IIB Darmajaya, Dr. Andi Desfiandi, SE, MA.

    Konser amal yang bertajuk “Lampung Bersatu Untuk Sulawesi Tengah” tersebut, akan digelar di Aula Lantai III Gedung Alfian Husin Kampus Institut Informatics and Business (IIB) Darmajaya atau yang dikenal dengan nama Kampus Biru di Jalan ZA Pagar Alam, Kedaton, Rabu malam 10 Oktober 2018 sekitar pukul 19.30 WIB.

    Kim Commanders menuturkan, konser amal penggalangan dana bertajuk “Lampung Bersatu Untuk Sulawesi Tengah” tersebut, dinisiasi dirinya bersama Ketua Yayasan Alfian Husin Universitas IIB Darmajaya, Dr. Andi Desfiandi, SE, MA pada 29 September 2018 lalu untuk membantu meringankan beban dan penderitaan untuk saudara-saudara kita di Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah yang tertimpa musibah bencana alam gempa bumi dan tsunami.

    “Begitu terjadi musibah bencana alam di Sulawesi Tengah, saya langsung tergerak untuk melakukan penggalangan dana. Lalu keesokan harinya, saya konfirmasi dengan Bang Andi Desfiandi selaku Ketua Yayasan IBI Darmajaya. Alhamdulilah, beliau (Andi) merespons dan mengajak saya bersama Kosela untuk menggelar konser amal penggalangan dana di Kampus IIB Darmajaya,”ujarnya kepada teraslampung.com saat berkunjung ke Sekret Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung di Jalan H. Agus Salim, Kelurahan Kelapa Tiga, Tanjungkarang Pusat, Selasa 9 Oktober 2018.

    Selanjutnya, kata Lukman Hakim atau yang akrap disapa Kim Commanders, sebelum digelar acara malam puncak konser amal penggalangan dana tersebut, dirinya bersama para musisi Kosela yang dipunggawainya dan sejumlah mahasiswa kampus IIB Darmaja berkoordinasi dengan dirinya untuk melakukan penggalangan dana korban bencana alam tersebut terlebih dulu.

    “Dari penggalangan dana awal yang telah dilakukan, terkumpul sebesar Rp 2 juta, lalu Rp 6 juta dan beberapa hari berikutnya terkumpul Rp 12 juta lebih,”ungkapnya.

    Dikatakannya, malam penggalangan dana konser amal tersebut, digelar terbuka untuk umum yang peduli terhadap sesama yang ingin menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu para korban bencana alam yang terjadi di Sulawesi Tengah tersebut.

    “Ini adalah bentuk rasa kepedulian kita semua khususnya warga Lampung untuk membantu saudara-saudara kita di Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah yang sedang tertimpa bencana alam gempa bumi dan tsunami. Kalau bukan kita siapa lagi, dan inilah saatnya untuk berbagi terhadap sesama tanpa harus memandang suku dan agama,”ucap pria asli kelahiran Telukbetung, Bandarlampung ini.

    Dalam acara malam puncak konser amal penggalangan dana tersebut, lanjut Kim, dia akan tampil bersama musisi dari Komunitas Seniman Jalanan Lampung (Kosela) seperti Nopi (akuistik), Hendra Rai (melodi), Maing (akuistik melodi), Anto (Bas), Bowo (cajon), Atik (conga), Hendra Roda (perkusi), Lola Yunita (vokal), Riyan, Nada dkk (baking vokal) akan menampilkan karya musik terbaiknya dengan membawakan empat buah lagu.

    Dari empat lagu yang akan dinyanyikan, dua diantaranya adalah karya Kim Commanders yakni ‘Asa Sang Anak Bangsa’ dan ‘Merah Putih Didenyut Nadi’. Kemudian dua lagu lainnya adalah, ‘Baku Jaga’ karya musisi Pasha Ungu yang saat ini menjabat sebagai Walikota Palu, Sulawesi Tengah dan lagu karya musisi Ebiet G. Ade dengan judul ‘Masih Ada Waktu’.

    “Saat menyanyikan lagu ‘Merah Putih Didenyut Nadi’ diselah-selah lagu (intro reff) akan dilakukan pembacaan puisi ‘Setitik Harapan Ditanah Donggala’ karya Kim Commanders yang akan dibawakan oleh Ketua Yayasan IIB Darmajaya, Andi Desfiandi,”pungkasnya.

    Sementara Ketua Yayasan Alfian Husin IIB Darmajaya, Dr. Andi Desfiandi, SE, MA menuturkan, pada acara tersebut, selain akan dilakukan penggalangan dana dari tokoh masyarakat, para pengusaha, perbankan dan masyarakat yang peduli terhadap musibah bencana alam yang terjadi di Sulawesi Tengah tersebut, akan dilakukan juga lelang barang.

    “Selain menampilkan musisi perdamaian dunia, Kim Commanders bersama band akuistik Komunitas seniman jalanan lampung (Kosela), malam konser amal penggalangan dana itu akan dihibur juga sejumlah artis dari Ibu Kota,”ujarnya.

    Dikatakannya, kegiatan ini merupakan inisiasi dari Kampus IIB Darmajaya yang juga melibatkan pihak eksternal bersama Kim Commanders. Kegiatan ini juga, mendapat dukungan dari sejumlah tokoh, pejabat, pengusaha dan masyarakat lampung yang peduli terhadap musibah bencana alam tersebut.

    “Bahkan para mahasiswa IIB Darmajaya, sudah lebih dulu melakukan penggalangan dana di internal yakni melalui UKM As-Salam, para karyawan, dosen dan sivitas akademi IIB Darmajaya. Donasi yang sudah terkumpul hingga saat ini, sebesar Rp 1 miliar yang didapat dari para relawan dan pengusaha di Lampung,”ungkap Ketua Relawan Bravo 5 ini.

    Menurutnya, hasil dari penggalangan dana awal itu, nantinya akan digabungkan pada malam puncak konser amal bertajuk “Lampung Bersatu Untuk Sulawesi Tengah” yang akan digelar di Aula Lantai III Gedung Alfian Husin Kampus IIB Darmajaya pada Rabu malam besok.

    Diketahui, pada acara malam puncak konser amal penggalangan dana bertajuk “Lampung Bersatu Untuk Sulawesi Tengah” tersebut, akan diisi juga oleh beberapa penyanyi dan musisi lainnya seperti Yosi Linda (Akademi Indosiar), Popo (D’Academy), artis Ibu Kota, Clara Gopa dan PT. Pelindo Band.

    Acara tersebut, akan dihadiri langsung oleh Gubernur Lampung terpilih, Ir. H. Arinal Djunaidi dan Wakil Gubernur Lampung terpilih, Dr. Hj. Chusnunia Chalim, M.Si, M.Kn. Selain itu juga, beberapa pejabat lampung lainnya, para relawan, pengusaha lampung, sejumlah organisasi, tokoh masyarakat dan dikung oleh Bank BNI, BRI, BJB, Aptisi Lampung, IPC Panjang serta sejumlah perusahaan dibawah naungan Yayasan Alfian Husin.

    The post Kim Commanders dan Kosela Galang Dana untuk Korban Gempa Palu-Donggala appeared first on Teras Lampung.

  • Zainal Asikin I Teraslampung.com

    BANDARLAMPUNG-Musisi perdamaian dunia, Kim Commanders bersama musisi jalanan yang tergabung dalam Komunitas seniman jalanan lampung (Kosela), tampil memukau malam puncak perayaan HUT ke-24 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) serta penyerahan penghargaan Saidatul Fitriah dan Kamaroeddin Award 2018 yang dihelat di Cafe Clary’s Hotel Andalas di Jalan Radin Inten, Enggal, Bandarlampung, Minggu 9 September 2018 malam.

    Sebelum menyanyikan lagu terbaru ciptaannya tersebut, dengan diiringi petikan guitar akustik yang dimainkannya, pria pemilik nama asli Lukman Hakim atau yang disapa Kim Commanders sedikit menyampaikan narasi mengenai latar belakang lagu karya terbarunya “Asa Sang Anak Bangsa” itu yakni agar bangsa Indonesia agar selalu tetap damai, jangan ada pertengkaran meski harus berbeda pilihan pada Pilpres 2019 mendatang.

    Para tamu undangan yang hadir pada malam puncak HUT AJI ke-24 tersebut, seperti Ketua KPU Lampung, Nanang Trenggono, Ketua Ombudsmen RI Perwakilan Lampung, Nur Rakhman Yusuf, Humas Pemkot Bandarlampung, NGO, para jurnalis dari media cetak, online dan televisi serta tamu undangan lainnya.

    Kim Comanders yang dikenal sebagai musisi perdamaian dunia yang karya lagu sebelumnya berjudul “Children With No Land” menjadi rating satu dunia itu, tampil memukau saat menyanyikan lagu “Asa Sang Anak Bangsa. Tidak hanya itu saja, bahkan Kim juga menyanyikan satu karya lagu terbarunya lagi  “Merah Putih di Denyut Nadi”.

    Meski kedua lagu tersebut belum banyak didengar dan diketahui, namun para tamu undangan yang hadir di malam puncak HUT AJI ke-24 yang digelar di Cafe Clary’s Hotel Andalas di Jalan Radin Inten, Kelurahan Enggal, Bandarlampung tampak antusias menedengarkan dua buah karya lagu cipta Kim Commanders tersebut.

    Malam puncak perayaan HUT ke-24 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) serta penyerahan penghargaan Saidatul Fitriah dan Kamaroeddin Award 2018 semakin meriah saat dihibur oleh para musisi jalanan yang tergabung dalam Kosela yakni Hendra Roda (perkusi), Maing (melodi), Bowo (perkusi), Anto (Bass), Nopi (akuistik) dan Lola Yunita (vokal).

    Para musisi jalanan Kosela tersebut, menyanyikan beberapa buah lagu seperti Selepasa Kau Pergi, Dia, Andaikan Kau Datang, Oh Dewi, Corazon Espinado, Dibawah Tiang Bendera dan Kemesraan. Tidak Hanya itu saja, bahkan mereka juga menyanyikan lagu daerah yakni tanah Lado dan Maumere Gemo Famire.

    Kim Commanders mengatakan, bahwa ia bersama musisi jalananan Kosela yang dipunggawainya itu, sangat berterima kasih kepada AJI Bandar Lampung yang telah memintanya untuk tampil yang kedua kalinya pada malam puncak HUT AJI ke-24 serta penganugerahan karya jurnalistik saidatul Fitriah dan penghargaan Kamaroeddin Award.

    “Ini yang kedua kalinya saya tampil lagi, kalau sebelumnya saat HUT AJI ke-22. Kali ini, saya tampil lagi tapi tidak solois yakni bersama teman-teman musisi jalanan yang tergabung dalam Kosela,”ujarnya.

    Dikatakannya, AJI Bandar Lampung ini, tidak hanya peduli terhadap karya jurnalistik dan perorangan yang berperan penting dalam kemerdeaan pers saja. Tapi AJI Bandar Lampung ini juga, peduli dan perhatian terhadap para musisi jalanan dan seniman lampung yang memiliki talenta meski khalayak umum masih belum banyak mengetahuinya. Salah satunya adalah Kosela ini, sebuah wadah yang menampung para musisi jalanan.

    “Saya mengapresiasi AJI Bandarlampung yang memberikan sebuah penghargaan untuk karya jurnalistik. Tidak hanya itu saja, AJI Bandarlampung memberikan panggung untuk para musisi jalanan Kosela untuk menunjukkan talentanya yang selama ini tidak begitu banyak diketahui. Mudah-mudahan di usianya yang ke-24, AJI semakin sukses dan tetap menjaga marwah jurnalis,”ungkapnya.

    The post Kim Commanders dan Kosela Tampil Memukau di HUT AJI Ke-24  appeared first on Teras Lampung.

  • Zainal Asikin | Teraslampung.com

    BANDARLAMPUNG -- Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung dan Aliansi Mahasiswa menggandeng para musisi jalanan yang tergabung dalam Komunitas Seniman Jalanan Lampung (Kosela) menggelar konser solidaritas dengan tema “Panggung Rakyat” di Bundaran Tugu Adipura, Jumat 10 Agustus 2018 sore.

    Selain untuk solidaritas para korban penggusuran Pasar Griya Sukarame, para pemusik jalanan Lampung itu juga menyuarakan solidaritas untuk warga Lombol, Nusa Tenggara Barat, yang sedang dirundung duka akibat gempa bumi berskala 7,0 SR.

    Saat melakukan aksi di Panggung Rakyat tersebut, para musisi jalanan Kosela menyanyikan lagu "Bongkar" karya musisi ternama Iwan Fals.

    “Penindasan serta kesewenang-wenangan, banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan. Hoi hentikan, hentikan jangan diteruskan. Kami muak, dengan ketidakpastian dan keserakahan”. Itulah sepenggal lirik lagu ‘Bongkar’ yang dinyanyikan dengan lantang oleh para musisi jalanan KOSELA.

    Lirik nyanyian ‘Bongkar’ yang diiringi dengan berbagai alat musik oleh para musisi jalanan tersebut, seakan mewakili sebuah jeritan hati masyarakat Griya Pasar Sukarame yang jadi korban penggusuran lahan dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung beberapa waktu lalu dan sampai saat ini belum mendapatkan kepastian serta keadilan.

    Selain pentas musik, Panggung Rakyat juga diisi dengan orasi politik dan pembacaan puisi.

    Dalam aksi Panggung Rakyat tersebut, Kim Commanders menyanyikan beberapa buah lagu karya ciptaannya sendiri seperti "Merah Putih di Denyut Nadi" dan "Asa Sang Anak Bangsa". Lagu tersebut dinyanyikan lantang oleh Kim, bersama para musisi lainnya dan dipersembahkan untuk Indonesia.

    Sementara beberapa orang perwakilan dari masyarakat Griya Pasar Sukarame yang turut turun ke jalan, memasang sejumlah foto penggusuran untuk ditunjukkan kepada masyarakat umum yang melintas di jalan tersebut.

    Ketua Komunitas Seniman Jalanan Lampung (Kosela), Kim Commanders menngaku selain sebagai wujud partisipasi Kosela, kehadirannya pada acara Panggung Rakyat juga untuk mendukung penggalangan dana bagi warga bekas Pasar Griya Sukarame dan untuk membantu korban gempa bumi di Lombok.

    “Kami dari Kosel bersama kawan-kawan dari LBH dan Aliansi Mahasiswa turut peduli terhadap mereka korban penggusuran. Kita bisa lihat bagaimana penderitaan anak-anak ini, mereka sudah tidak punya rumah lagi, seragam sekolah, buku dan peralatan sekolahnya ikut hancur akibat tertimbun reruntuhan banggunan rumahnya yang dirobohkan dan kami peduli akan itu,”ungkapnya, Jumat 10 Agustus 2018.

    Menurutnya, musisi jalanan yang ikut terlibat dalam aksi Panggung Rakyat ini, ada sekitar 30 orang musisi.

    Pencipta lagu ‘Childern With No Land’, Kim sapaan akrabnya mengutarakan, penggalangan dana ini sudah dilakukan sejak lima hari lalu dan hingga hari ini. Harapannya, Pemkot Bandarlampung, dapat berbagi dengan orang-orang yang menjadi korban penggusuran.

    Kim menegaskan, kehadiran Kosela pada kegiatan sosial itu merupakan  bentuk kepedulian terhadap para korban. Kim mengaku pihaknya tidak ingin mencampuri konflik yang terjadi antara Pemkot Bandarlampung dengan warga yang menjadi korban penggusuran Griya Pasar Sukarame.

    “Kami di sini tidak untuk melihat perseteruan, tapi karena peduli dan kami juga menggalang dana. Penggalangan dana ini untuk saudara-saudara kita korban penggusuran serta untuk membantu keluarga maupun sahabat kita yang ada di Lombok akibat bencana gempa,”terangnya.

    Penanggungjawab perkara Griya Pasar Sukarame LBH Bandarlampung, Kodri Ubaidilah,  mengatakan "Panggung Rakyat" digelar untuk mengkampanyekan suara rakyat.

    Menurutnya,  kurang lebih satu bulan ini Pemkot Bandarlampung masih menutup mata dan telinganya terhadap proses penggusuran yang sudah dilakukan.

    “Inilah yang kami gaungkan lagi di "Panggung Rakyat" ini, Pemkot terkesan tidak ada perhatian dan peduli malah terkesan membiarkan warganya terlantar. Khususnya kepada Walikota, tidak boleh tidur enak-enakan, masyarakat sudah lama menunggu untuk bisa duduk bersama menyelesaikan masalah tersebut,” katanya.

    Dikatakannya, "Panggung Rakyat"  digelar agar masyarakat luas juga tahu yakni untuk mengambil donasi dari masyarakat yang nantinya akan ditujukan untuk para korban penggusuran dan juga untuk para korban gempa Lombok.

    “Meskipun jadi korban penggusuran, tetapi kawan-kawan masyarakat Griya Pasar Sukarame hari ini turut bersolidaritas untuk masyarakat korban gempa Lombok,”ungkapnya.

    Menurut Kodri, penggalangan dana setiap hari sudah dilakukan oleh para mahasiswa dengan beberapa cara.

    “Pengumpulan donasi masih terus dilakukan. Di Kantor LBH Bandarlampung, sudah terkumpul cukup lumayan donasi dari warga masyarakat yang peduli terhadap kawan-kawan korban penggusuran,” katanya.

    The post Di Bundaran Tugu Adipura, Para Seniman Jalanan Lampung Teriakkan Suara Hati appeared first on Teras Lampung.

  • Via Vallen kembali manggung di Lampung untuk pasangan calon Gubernur-calon Wakil Gubernur Lampung Arinal Djunaidi - Chusnunia Chalim.
  • Zainal Asikin | Teraslampung.com

    BANDARLAMPUNG -- Kurangnya perhatian pemerintah daerah membuat para musisi jalanan (pengamen) dan seniman jalanan di Provinsi Lampung membentuk sebuah wadah atau organisasi yang diberi nama Komunitas seniman jalanan lampung (Kosela). Wadah tersebut dibentuk untuk menampung para musisi dan seniman jalanan yang terpinggirkan atau tidak diakui keberadaannya dan juga menjawab kondisi sosial serta keresahan di tengah-tengah masyarakat.

    Pembentukan wadah seniman jalanan Lampung yang terpinggirkan tersebut, berlangsung di rumah salah satu seniman lukis Pasar Kangkung bernama Sugi, yang juga sebagai rumah Gerakan Rakyat Nusantara (GRN) di Jalan Ikan Pari Blok D No. 56 Kelurahan Kebon Pisang, Telukbetung Selatan, Kamis 7 Mei 2018 malam sekitar pukul 22.00 WIB.

    Pembentukan dan pengukuhan Kosela tersebut, dihadiri puluhan penggiat seniman seperti musisi jalanan (pengamen) Telukbetung, seniman lukis, ukir, batik tunu, Gamolan, aktivis penggiat Aids, penggiat seni Lampung lainnya, serta EO (event Organizer). Hadir pula Ketua Gerakan Rakyat Nusantara (GRN) pusat, Eriyono Sucahyono alias Nio.

    Seorang musisi jalanan Lampung yang karya lagunya “Children With No Land” sudah dikenal dan diakui oleh dunia, Kim Commanders, secara aklamasi didaulat sebagai Ketua Komunitas Kosela.

    Kim Commanders mengatakan, Kosela merupakan wadah bagi para seniman jalanan Lampung yang terpinggirkan atau yang tidak diakui keberadaaannya. Wadah ini untuk menjawab keresahan para seniman yang selama kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah.

    “Saya sangat berterima kasih kepada teman-teman musisi dan seniman jalanan, yang sudah berikan kepercayaan kepada saya sebagai ketua Kosela. Kosela ini bukan hanya sebagai wadah khusus musisi jalananan saja, tapi juga sebagai wadah untuk seluruh seniman di Lampung yang selama ini terpinggirkan atau tidak diakui keberadaannya,”ujarnya.

    Menurutnya, pemerintah daerah semestinya memberikan ruang berekspresi untuk mereka sehingga memiliki pekerjaan tetap. Dengan dibentuknya Kosela ini, ke depan para musisi dan seniman jalanan Lampung bisa sejajar dengan musisi atau seniman dari luar Lampung yang selama ini sering dipanggil pemerintah daerah untuk tampil di semua even-even besar di Lampung.

    [caption id="attachment_114263" align="aligncenter" width="640"]Ketua Gerakan Rakyat Nusantara (GRN) pusat Eriyono Sucahyono atau yang akrab disapa Bung Nio yang hadir saat pengukuhan Kosela di Jalan Ikan Pari Blok D No. 56 Kelurahan Kebon Pisang, Telukbetung Selatan. Ketua Gerakan Rakyat Nusantara (GRN) pusat Eriyono Sucahyono atau yang akrab disapa Bung Nio yang hadir saat pengukuhan Kosela di Jalan Ikan Pari Blok D No. 56 Kelurahan Kebon Pisang, Telukbetung Selatan.[/caption]

    “Jadi hadirnya kami (Kosela) ini, bukan bermaksud untuk mengambil alih job mereka. Tapi kami juga, ingin seperti yang lain diberikan ruang untuk berekspresi dan berkreasi. Dengan adanya Kosela ini, harapannya kedepan bisa memberikan pendapatan yang jelas bagi musisi dan seniman jalanan dan kita juga akan transparan,”ungkapnya.

    Kim mengatakan, jika musisi dan seniman seniman Lampung jalanan yang terpinggirkan ini disatukan dalam satu wadah, lalu ditampung dan diberikan ruang atau pekerjaan yang jelas, maka mereka yang memiliki kreativitas, bakat dan kemampuan dapat tersalurkan. Kim mencotohkan, seperti halnya di wilayah Bulungan, Jakarta. Para musisi dan seniman jalanan di sana mendapat ruang ekspresi dan terbina dengan baik karena mempunyai wadah yang jelas dan mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerahnya.

    “Mestinya berikan juga dong kesempatan untuk mereka ini pentas di sebuah event organizer, atau tidak diberikan lokasi untuk pentas dan itulah yang namanya pembangunan itu merata. Selama ini kan tidak, masih saja dipetak-petakan dan kurang memanusiakan manusia,”jelasnya.

    Sementara Ketua Gerakan Rakyat Nusantara (GRN) pusat Eriyono Sucahyono atau yang akrab disapa Bung Nio yang hadir langsung saat pengukuhan Kosela tersebut, menuturkan ditunjuknya Kim Commanders sebagai ketua Kosela merupakan pilihan tepat. Meski sebagai musisi jalanan dan tidak ada perhatian dari pemerintah daerah, namun tidak diragukan lagi karya lagunya diakui oleh dunia yang peduli terhadap anak-anak korban perang.

    Oleh karena itu, kata Bung Nio, perlu adanya kerja bersama-sama atau secara bertgotong royong sesuai dengan motto dari Kosela itu sendiri yakni Bangkit untuk satu, Satu untuk kita, Kita untuk semua, Kosela tulus ikhlas pasti bisa, bisa, bisa.

    “Saya merasa haru dan bangga dengan dibentuknya Kosela ini, karena jargon mereka ini menunjukkan kegotong-royongan seperti apa yang dimiliki bangsa kita Indonesia. Jadi kita harus bekerja bersama-sama untuk menyatukan itu semua, bukan kerjasama karena kerjasama itu mencari keuntungan. Jadi tanpa bersama-bersama, ya kita ini bukanlah siapa-siapa,”ujarnya.

    Menurutnya, jiwa seorang seniman ini memang tidak bisa diperintah, tapi bagaimana harus bisa merubah menset itu semua dengan kerja bersama dan menunjukkan karyanya. Bangunlah jiwa kalian, bangkitkan raga kalian, sehingga Kosela menjadi wadah untuk pemerintah dan programnya yang ada dibawah bisa terbantukan.

    [caption id="attachment_114266" align="aligncenter" width="640"] Para musisi jalanan (pengamen) dan seniman jalanan saat berada
    di rumah salah satu seniman lukis Pasar Kangkung bernama Sugi yang juga sebagai rumah Gerakan Rakyat Nusantara (GRN) di Jalan Ikan Pari Blok D No. 56 Kelurahan Kebon Pisang, Telukbetung Selatan.[/caption]

    “Mudah-mudahan dengan adanya Kosela ini bisa bersatu, jangan jadi perpecahan karena tidak sepaham dan saling menjelekkan,”ucapnya.

    Dikatakannya, dengan dibentuk Kosela sebagai wadah yang menampung para musisi dan seniman jalanan lampung ini, harapannya dapat mengembalikan potensi wisata dan menjadikan Lampung sebagai Provinsi senyum sapa dan ramah tamah sehingga bisa mendatangkan pariwisata. Perbedaan jangan dijadikan sebuah perpecahan, namun untuk bersatu sehingga kedepan musisi dan seniman jalanan lampung menjadi kebanggaan tersendiri untuk masyarakat lampung serta luar.

    “Untuk temen musisi dan seniman jalanan, jangan salahkan pemerintah tapi tunjukkan juga kalau kalian juga mampu dan bisa. Kembangkan terus sifat kegotong-royongan, apapun itu bajunya mau merah, kuning, hijau, putih, biru atau lainnya harus tetap bersatu jangan terpecah belah demi Indonesia jaya,”ungkapnya.

    Diharapkannya, Pemerintah daerah dapat memberikan perhatian dan ruang ekspresi untuk mereka, apalagi banyak sekali anggaran dari pemerintah pusat yang dikhususkan untuk rakyat yang memang membutuhkan. Bahkan di lampung ini, banyak tempat-tempat tertinggal yang belum tersentuh oleh pemerintah daerah baik dari segi pembangunan atau lainnya.

    “Kita bukan mencari massa, tapi menampung seluruh aspirasi masyarakat bagi yang tidak tersentuh sama sekali oleh pemerintah daerah. Sehingga diperlukan bukti-bukti otentik salah satunya melalui para musisi dan seniman jalan lampung ini,”pungkasnya.

    The post Kosela, Wadah Musisi dan Seniman Jalanan Lampung yang Terpinggirkan appeared first on Teras Lampung.

  • TERASLAMPUNG.COM -- Komunitas Klub Nonton mengadakan nonton bareng film A Letter for Mommy karya sutradara Aji Aditya di Jamo Caffe and Kitchen, Bandarlampung, Sabtu siang (5/5/2018).

    Hadir pada acara itu, antar lain produser film A Letter for Mommy, Wisnu D, aktivis HAM  SN Laila, serta para seniman dan peminat film di Lampung.

    Film berdurasi 28 menit yang bercerita tentang keluarga yang terstigma buruk oleh masyarakat karena mengidap HIV/AIDS itu mengambil seting di wilayah Lampung.

    Menurut sutradaranya Aji Aditya dibuat dalam dua versi. Satu versi untuk festival dan satu lagi untuk kampanye anti Aids.

    “Saya buat film ini untuk kepentingan kampanye anti aids juga buat festival. Nah, yang diputar malam ini film untuk kampanye anti aids,” jelas Aji.

    Film yang mengambil latar belakang kehidupan nelayan itu menghadirkan Chico Jerico sebagai bintang utama memerankan Ranu.

    Di film tersebut dikisahkan Ranu sang ayah dan Aryo sama – sama terkena virus Hiv virus penyebab Aids.

    Pria pernah diundang di Fesival Film Internasional di Hanoi, Vietnam, lewat filmnya Agus dan Agus, itu menjelaskan aktor Chico Jericho yang jadi bintang utama film A Letter for Mommy tidak diberikan honor

    “Semua pemain dan crew yang terlibat termasuk Chico tidak diberi honor, itu sesuatu yang membanggakan buat saya sebagai sutradara,” ujar Aji yang pernah aktif di radio siaran serta jurnalistik.

    Rencananya nonton bareng itu juga akan memutar film Laut Bercerita karya Pritagita Arianegara. Film yang juga dikhususkan untuk mengikuti festival internasional ini sayangnya tidak dapat diputar sebab ada kendala difilenya.

    Dandy Ibrahim

    The post Klub Nonton Gelar Nonton Bareng Film “A Letter for Momy” appeared first on Teras Lampung.